Headline

BI : Ekonomi Jawa Timur Tumbuh 5,6%

SURABAYA-Kajian Bank Indonesia secara regional menyebut perekonomian Jawa Timur pada triwulan II 2016 tumbuh 5,6% (yoy). Peningkatan itu cukup baik dibandingkan triwulan I 2016 (5,3%, yoy) dan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional (5,2%, yoy).

Dari sisi permintaan, kajian Bank Indonesia, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan II 2016 terutama didorong oleh peningkatan pertumbuhan ekspor dan konsumsi, baik konsumsi swasta maupun pemerintah.

Peningkatan ekspor terutama didorong oleh meningkatnya permintaan negara-negara mitra dagang terhadap komoditas ekspor utama Jawa Timur seperti perhiasan dan produk hasil pertanian, pertambangan dan industri pengolahan.

Sementara itu, peningkatan moderat pada konsumsi swasta, sebagai komponen penyumbang PDRB terbesar Jatim, dipengaruhi oleh perayaan hari besar keagamaan dan periode liburan sekolah. Adapun peningkatan konsumsi pemerintah terjadi seiring dengan realisasi anggaran operasional pemerintah baik melalui APBD Provinsi, APBD Kab/Kota, serta APBN yang dialokasikan di Jawa Timur, diantaranya yaitu pencairan gaji ke-13 dan 14 untuk PNS, Polri, dan TNI, pencairan Tunjangan Hari Raya, serta pengeluaran operasional untuk proyek pemerintah.

Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi didukung oleh sektor pertanian dan perdagangan. Pergeseran musin panen ke triwulan II 2016 menjadi penopang pertumbuhan yang signifikan pada sektor pertanian. Sementara itu, berbagai perayaan hari keagamaan pada triwulan II 2016 turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di sektor perdagangan sebagai sektor yang memiliki pangsa terbesar terhadap perekonomian Jawa Timur.

Asesmen Inflasi Daerah

Inflasi Jawa Timur pada triwulan II 2016 tercatat sebesar 2,93% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya (3,71% yoy) dan terendah kedua di Kawasan Jawa setelah setelah Provinsi DIY (2,77%, yoy), serta lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,45% (yoy). Kelompok inti merupakan penyumbang utama inflasi yaitu sebesar 2,12%, disusul oleh volatile food sebesar 1,31%, dan kelompok administered prices sebesar -0,50%. Sementara tekanan inflasi terbesar berasal dari kelompok volatile food (7,16%, yoy), disusul oleh kelompok inti (3,48%, yoy), sedangkan administered prices justru meredakan tekanan inflasi pada periode ini (-2,86%, yoy) seiring dengan adanya koreksi tarif administered, khususnya BBM dan tarif angkutan darat dan udara.

Tekanan inflasi kelompok volatile food didorong oleh tingginya permintaan akibat faktor seasonal Ramadhan dan Lebaran. Sementara itu, tekanan pada komoditas inti bersumber dari kenaikan biaya pendidikan seiring dengan dimulainya tahun ajaran baru, dan kenaikan upah tukang bukan mandor. Adapun tekanan dari kelompok adminitered prices bersumber dari komoditas rokok akibat kenaikan tarif cukai rokok. Meskipun demikian, tekanan yang lebih tinggi dari komoditas ini tertahan oleh koreksi harga BBM dan tarif listrik, serta turunnya tarif angkutan udara dan kereta api. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top