Nasional

Banyak Kepala Daerah Terjerat Kepentingan Pemodal

JAKARTA- Ketua MPR Zulkifli Hasan meminta masyarakat lebih cerdas dalam memilih pemimpinnya. Penegasan disampaikan Zulkifli mengingat banyak cara dilakukan kepala daerah terpilih yang pada kenyataannya tidak berpikir untuk kemajuan daerahnya tetapi hanya berpikir untuk kepentingan pribadinya karena terjetat kepentingan pemodal.

Pemimpin itu mencerminkan rakyatnya. Jadi kalau masyarakat ingin pemimpinnya baik, maka ikhtiar memilih pemimpinnya juga harus baik,” kata Zulkifli Hasan saat menggelar Sosialisasi 4 Pilar MPR di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (3/5/2017).

Dia menhakui, saat ini sulit mencari figur pemimpin yang muncul bukan hanya mengandalkan kemampuan finansial. “Kebanyakan cari pemodal untuk bayar iklan, bayar transport pendukung, bayar lain-lain. Maka pada waktu ditagih dia harus berpikir untuk mengembalikannya,” katanya.

Akibatnya segala dilakukan untuk memenuhi keinginan pemodal yang telah menyukseskannya. Untuk pulangkan modal, sebutnya ada beragam modus yang dilakukan si pemodal dan kepala daerah terpilih.

Ada pemodal yang minta difasilitasi pembangunan jalan di lahan yang akan dibangun. Akibatnya harga yang tadinya dibeli si pemodal Rp 50.000 melonjak menjadi Rp 1.000.000. Ada juga Kepala Sekolah yang ingin naik jabatan tetapi dikenakan biaya oleh kepala daerah agar dipenuhi kemauannya.

Selain itu, ada juga kepala daerah yang menjual beli jabatan di lingkup pemerintahannya untuk menumpuk kekayaannya. “Ada bos (pemodal) satu lagi yang meminta seorang sarjana pendidikan menjadi kepala dinas pertambangan. Macam-macam. Itulah yang terjadi. Oleh karena itu meniadi tugas kita bersama untuk membenahi ini. Minimal yang bisa kita lakukan berhati-hati memilih calon pemimpin,” ingatnya.

Zulkifli Hasan juga menekankan agar mahasiswa selalu memahami makna pentingnya Pancasila. Sebagai pedoman bernegara dan salah satu pilar yang selalu digaungkam dalam sosialisasi MPR, Pancasila adalah nilai-nilai luhur, filsafah dan pondasi. Oleh karena itu harus dijadikan pedoman perilaku sehari hari.

“Mahasiswa adalah agen perubahan, jika Pancasila itu menjadi perilaku kita, maka persatuan Indonesia akan semakin erat,” tegasnya.

Dalam menghadapi situasi apapun, Pancasila harus diterapkan, sehingga keberagaman Indonesia selalu terjaga dan menjadi pemersatu bangsa. Sila ketuhanan yang maha esa, pada prinsipnya, bangsa Indonesia adalah Bertuhan. Menolak paham anti tuhan. Wajib menyembah Tuhan dan beribadah menurut kepercayaan masing-masing secara leluasa.

“Oleh karena itu, Islam, Kebangsaan, NKRI merupakan satu kesatuan, seirama sejalan tidak perlu dipertentangkan. Semua itu senasib sepenanggungan, saling gotong royong, itulah Pancasila,” tandasnya.(har)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top