Perbankan

Bankir Goldman Sachs Keluhkan Jam Kerja yang Capai 95 Jam dalam Sepekan

NEW YORK, SUARAINVESTOR.COM– Sebuah survei terkait kualitas kerja yang dilakukan kepada sekelompok analis atau bankir junior di Goldman Sachs menunjukkan sebagian besar dari mereka bekerja lebih dari 95 jam dalam
sepekan.

Padahal biasanya, waktu pekerjaan yang wajar adalah sebanyak 35 jam hingga 45 jam dalam sepekan.

Mengutip Kompas.com yang dilansir dari CNN, Jumat (19/3/2021) sebanyak 13 analis junior tersebut mengaku hanya tidur selama lima jam setiap malam serta mengalami diperlakukan tak sesuai dengan jobdesk mereka selama bekerja.

Sebagian besar dari analis yang mengisi survei tersebut pun mengaku kondisi kesehatan mental mereka telah menurun secara signfiikan selama mereka mulai bekerja di bank investasi tersebut.

“Ada titik di mana saya tidak makan, mandi, atau melakukan hal lain selain bekerja dari pagi hingga malam,” ujar salah satu analis dalam laporan tersebut.

Survei tersebut dilakukan secara sukarela oleh 13 orang analis yang berada di tahun pertama mereka bekerja.

Juru bicara Goldman Sachs mengatakan, hasil laporan tersebut telah dipaparkan kepada manajemen pada Februari lalu.

Hasil survei tersebut pun mulai bersebaran di media sosial pekan ini dan sebelumnya sempat diberitakan oleh Bloomberg News.

Pihak bank pun menyatakan telah mendengarkan kekhawatiran para pegawainya dan sedang berupaya untuk memberi solusi.

“Kami menyadari pegawai kami sangat sibuk, karena saat ini jalannya bisnis cukup kuat serta volume transaksi berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah,” tulis perbankan dalam keterangan tertulis mereka.

“Dalam satu tahun masa Covid-19, cukup dimaklumi orang-orang cukup tegang, dan karena itu kami mendengarkan kekhawatiran mereka dan mengambil langkah untuk memperbaiki itu,” jelas mereka.

Untuk diketahui, orang-orang yang bekerja di dunia perbankan Wall Street memahami kemungkinan kecil bekerja nine to five (dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 17.00) atau 40 jam dalam sepekan.

Para analis dalam survei tersebut pun berharap, setidaknya, perusahaan bisa membatasi jam kerja mereka dalam sepekan hingga 80 jam.
“Yang terjadi saat ini melampaui kerja keras,” ujar salah satu analis dalam laporan tersebut.
“Ini tidak manusiawi,” tambah dia.

Seluruh orang yang mengisi survei tersebut mengatakan lamanya waktu mereka bekerja telah melukai hubungan pertemanan dan keluarga mereka. Sebanyak tiga dari empat analis bahkan merasa mereka merupakan korban dari perisakan di tempat kerja.

Mereka pun mulai mempertimbangkan untuk mencari bantuan untuk kesehatan mental.

Meski bank-bank investasi di Wall Street, termasuk Goldman diketahui memiliki gaji yang tinggi dan bonus dalam jumlah besar, namun hal itu tidak selalu terjadi pada analis tahun pertama.

Namun demikian, pihak Goldman enggan memberikan komentar terkait kompensasi.

Salah satu laporan Business Insider mengatakan, Goldman serta perusahaan besar serupa lain memiliki upah dasar hingga 91.000 dollar AS. ***

Sumber: Kompas.com

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top