Industri & Perdagangan

Aktivitas Bisnis UMKM Dongkrak PDB Saat Ramadhan-Idul Fitri

Aktivitas Bisnis UMKM Dongkrak PDB Saat Ramadhan-Idul Fitri
Produk UMKM menyambut Lebaran 2024, berupa Hampers Cookies seharga Rp500.000/Foto: Iwan

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM
Peran dan keberadaan UMKM, khususnya industri rumahan mendorong peningkatan perekonomian Indonesia. Apalagi industri ini juga tidak memerlukan modal besar, sehingga dapat ditanggung sendiri tanpa memerlukan bantuan lembaga keuangan. “Bahkan industri rumahan memiliki peran kunci, di antaranya menciptakan lapangan kerja, membangun pedesaan, menambah diversifikasi kegiatan ekonomi, dan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB),” kata Kepala UKM Center FEB UI, Zahra Kemala Nindita Murad, Ph.D, Jumat (29/3/2024).

Selain makanan dan minuman, kata Dosen Departemen Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) itu, bahwa
industri rumahan juga bergerak untuk tekstil dan konveksi dalam skala kecil. “Meskipun hasil industri rumahan relatif kecil, apabila dihitung secara kolektif, industri ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PDB dan dampak kumulatifnya terhadap perekonomian,” ujarnya lagi.

Dikatakan Zahra, bahwa industri rumahan yang menjamur selama Ramadhan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia. Hal ini karena UMKM tersebut menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam produksi dan penjualan berbagai produk dan layanan, serta meningkatkan pendapatan rumah tangga secara keseluruhan.

Di sisi lain, peningkatan aktivitas ekonomi selama Ramadhan dapat memberikan dampak positif pada sektor terkait lainnya, seperti transportasi, logistik, dan jasa keuangan.

Menurut Zahra, perputaran uang saat Ramadhan tidak hanya disebabkan oleh Tunjangan Hari Raya (THR), tetapi didukung beberapa faktor lainnya, seperti peningkatan konsumsi, zakat dan sedekah, belanja peralatan dan baju lebaran, serta promosi dan diskon.

Lebih lanjut ia mengatakan momen berbuka puasa sering dijadikan ajang pertemuan kerabat, teman, atau partner bisnis, sehingga pengeluaran menjadi lebih tinggi. Mendekati Idul Fitri, umat muslim membeli berbagai keperluan, sehingga aktivitas belanja dan perputaran uang di sektor ritel dan pasar tradisional meningkat. “Selain itu tawaran promosi dan diskon selama Ramadhan menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen,” ungkapnya lagi.

Zahra menuturkan bahwa kondisi ekonomi yang sangat menguntungkan saat Ramadhan cukup sulit untuk direplikasi di waktu lain karena kecenderungan demografi Indonesia lebih merayakan hari raya Islam dibandingkan hari raya lain.

Meski begitu, tetap ada kemungkinan untuk menciptakan kondisi ekonomi serupa di luar Ramadhan. Di Indonesia terdapat kondisi yang sama seperti bulan Ramadhan, yakni libur panjang saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) atau libur sekolah.

Pada rentang waktu itu, dapat terjadi peningkatan konsumsi secara nasional walau dampaknya terhadap industri rumahan tidak terlalu signifikan.

Pada kondisi tersebut, peluang untuk meningkatkan kontribusi industri rumahan masih ada. Sebagai contoh, pada musim Natal dan tahun baru, industri rumahan dapat membuat produk kriya sebagai dekorasi dan hadiah natal, produksi makanan dan kue natal, jasa pelayanan, serta hiburan.

Contoh lainnya, industri rumahan pada musim libur sekolah bisa berupa jasa pengasuhan anak, les privat atau bimbingan belajar, penjualan produk anak, katering siap saji, penjualan kebutuhan sekolah, dan industri pakaian.

Untuk menciptakan kondisi ekonomi serupa di luar Ramadhan, menurut Zahra ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan pihak pemangku kepentingan.

Pertama, promosi reguler dan kampanye diskon saat libur nasional atau acara khusus lainnya. Kedua, kegiatan sosial dan budaya, seperti festival, pameran, dan pameran seni. Ketiga, insentif keuangan atau pajak untuk mendorong konsumsi dan investasi.

Selain itu, pemerintah dapat menaikkan aktivitas bisnis/konsumsi melalui peningkatan akses pembiayaan bagi UMKM, dan menaikkan daya beli masyarakat melalui penguatan kesejahteraan umum.***

Penulis : Iwan Damiri
Editor   : Kamsari

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top