Investasi

Ada Tax Amnesty, Jawa Timur Kejar Target Investasi Rp100 Triliun

SURABAYA-Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggenjot realisasi investasi hingga Rp100 triliun. Dengan dana investasi itu maka ekonomi Jawa Timur bisa tumbuh 0,3%. Oleh karena itu untuk mewujudkan target pertumbuhan 5,7% sampai 6,1 % tentu harus digenjot investasi. “Hingga semester pertama tahun ini, ekonomi Jatim tercatat tumbuh 5,55 %. Jauh lebih tinggi dari nasional yang hanya tumbuh 5,04 %,” kata Gubernur Jawa Timur Soekarwo di Surabaya, Senin (19/9/2016).

Soekarwo menegaskan siap mendorong agar perusahaan penanaman modal asing (PMA) maupun perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) segera mewujudkan pembangunan pabriknya.

Apalagi pemberlakuan kebijakan tax amnesty atau pengampunan pajak, kebijakan pelonggaran sektor moneter, dan penurunan suku bunga perbankan dari dua digit menjadi single digit. “Itulah yang membuat kami makin optimistis,” ungkapnya

Soekarwo mengatakan pihaknya berani merevisi target pertumbuhan ekonomi, setelah pemerintah pusat mengeluarkan sejumlah kebijakan yang dinilai dapat mendongkrak perekonomian, investasi, dan jasa keuangan.

Selain itu, makin menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar juga dinilai bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini.

Hal serupa juga terjadi 2015 lalu, dimana pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 5,44 %. Sementara nasional yang hanya tumbuh 4,79 %.
“Jadi secara kualitas, pertumbuhan ekonomi Jatim cukup baik. Inflasi administered price relatif dapat dikendalikan,” ucapnya.

Dengan inflasi yang rendah tersebut, maka yang diuntungkan adalah orang miskin. Ini berbeda jika inflasi tinggi, orang miskin pasti menjadi sangat terbebani.

Di Jatim, harga inflasi bagus karena adanya pemberian ongkos subsidi biaya angkut barang dan jasa dari D1 ke konsumen. Sedangkan inflasi pemerintah pusat, secara umum baik karena rendahnya harga minyak.

Ditambahkan, saat ini struktur PDRB Jatim masih didominasi oleh sektor industri pengolahan. Sektor ini mendominasi perekonomian dengan share 29,18 % terhadap PDRB, diikuti oleh sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor yang berkontribusi 17,86 %. Sedangkan sektor pertanian hanya berkontribusi 14,22 %. “Agar share sektor pertanian meningkat, harus dilakukan transformasi ke industri primer. Ini penting agar ada nilai tambah untuk petani,” pungkas. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top