Pertanian

Ada Mafia Pangan dan Alkes, Martin Desak Kemendag Perketat Pengawasan

Martin Manurung/suarainvestor.com

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Wakil Ketua Komisi VI DPR Martin Manurung mengakui adanya mafia yang mengendalikan harga pangan dan alat-alat kesehatan. Hal ini karena memang struktur pasar di dalam negeri tidak yang tidak sempurna. “Apalagi untuk urusan pangan dan alat kesehatan yang permintaannya sedang tinggi sekarang ini. Sementara para pemain dan suplier itu terbatas. Jadi itu sudah pasti ada,” katanya di Jakarta, Jumat (24/4/2020)

Lebih jauh kata anggota Fraksi Nasdem, selama ini memang ada sumbatan-sumbatan yang biasa disebut mafia. Hal ini terjadi karena mekanisme pasar yang biasa. “Jadi pasarnya itu bersifat oligopoli, karena itulah kita perlu mekanisme kontrol yang ketat dari Kemendag,” ujarnya.

Alumnus FEUI ini mendorong agar Kemendag bisa membongkar permainan para mafia. Tentu dengan cara menelusuri lokasi gudang, kemudian jalur pengangkutan dan lamanya waktu transportasi dari gudang ke pasar. “Masalahnya, Kemendag sebelumnya pernah, berjanji dan memastikan harga-harga barang tidak naik, menjelang Hari Raya keagamaan,” terangnya.

Martin mendesak agar pejabat-pejabat Kemendag lebih sering melakukan peninjauan lapangan. Namun tindakan seperti ini sudah mulai jarang dilakukan. “Mestinya, sering-sering turun dan chek lapangan. Sehingga seluruh mata rantai distribusi, baik keberadaan distributor, lokasi gudangnya, hingga berapa lama waktu transportasi perlu diketahui secara cermat,” paparnya.

Dengan cara itu, lanjut Martin, sehingga ada mekanis kontrol yang bagus dan teliti terhadap pasar pangan dan alat kesehatan. Apalagi saat ini dua sektor ini permintaannya cukup tinggi dan tidak normal. “Jadi saya hanya usul agar kontrol lapangan, seperti itu, kalau bisa dilaporkan secara berkala, terutama mengontrol harga dalam mengatasi Covid-19,” imbuhnya.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengklaim gula dan bawang putih impor telah masuk Indonesia. Kedatangan dua bahan pokok tersebut diharapkan dapat menambah pasokan dalam negeri untuk menstabilkan harga.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Suhanto mencatat 283.172 ton gula impor masuk per 20 April 2020. Jumlah itu setara 41,40 persen dari Persetujuan Impor (PI) gula kristal mentah atau raw sugar yang diterbitkan sekitar 683 ribu ton.

Raw sugar ini yang kemudian diolah menjadi gula konsumsi. Diketahui saat ini, gula konsumsi langka. Akibatnya, harga meningkat karena diburu masyarakat. Data pantauan Kemendag dari 223 pasar mencatat, harga rata-rata nasional gula pasir yakni Rp18.300 per kg, lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dipatok Rp12.500 per kg. Harga gula naik 4,57 persen dibandingkan bulan lalu yaitu Rp17.500 per kg.

Lebih lanjut ia mengatakan saat ini masih ada tiga jenis bahan pokok yang HET-nya cukup tinggi, meliputi bawang merah, bawang putih, dan gula pasir. “Rata-rata harga nasional kebutuhan pokok yang masih relatif tinggi atau di atas HET ada tiga, bawang merah, bawang putih, dan gula pasir,” ujarnya dalam rapat virtual bersama Komisi VI DPR, (23/4/2020)

Kemendag pun telah meminta industri rafinasi melakukan realokasi stok gula mentah mereka untuk diolah menjadi gula konsumsi sebanyak 250 ribu ton. Namun, industri menghadapi kendala lantaran mereka juga harus tetap memasok gula rafinasi kepada industri makanan dan minuman.

Sementara itu, bawang putih impor yang telah masuk di Indonesia sebanyak 48.898 ton per 20 April 2020. Rencananya, bawang putih akan diimpor sebanyak 58.730 ton hingga pekan ketiga Mei mendatang.

Untuk memudahkan importasi bawang putih di tengah pandemi corona, Kemendag menghapuskan kewajiban PI dan Laporan Surveyor (LS) bagi importir bawang putih hingga 31 Mei 2020. Ketentuan itu tertuang pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27 Tahun 2020 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura. Dari total 48.898 ton bawang putih impor, hanya 20 ribu ton yang menggunakan PI dan LS.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top