Nasional

Aboebakar: Ada 4 PR untuk Kapolri Baru Listyo Sigit Prabowo

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Anggota Komisi III DPR Aboebakar Alhabsyi mengucapkan selamat atas disetujuinya Komjend Listyo Sigit Prabowo (LSP) sebagai Kapolri baru menggantikan Jenderal Idham Azis. Ia berharap LSP bisa melakukan dan melanjutkan reformasi di kepolisian.

Hal itu perlu dilakukan untuk lebih meningkatkan performa institusi Polri dalam menjalankan tugasnya. Secara khusus reformasi ini perlu menguatkan independensi Polri.

“Ini untuk menjawab persoalan yang disampaikan salah satu penyidik KPK Novel Baswedan yang menyatakan bahwa, banyak faksi di Polri yang sarat kepentingan dan saling menyandera. Sehingga Pimpinan Polri tidak berani mereformasi Polri menjadi institusi yang dipercaya,” demikian Aboebakar, Kamis (21/1).

Menurut Sekjen PKS itu, ada dua hal yang saling terkait, yaitu independensi dan soliditas. Sepanjang institusi bekerja tegak lurus menjalankan tugas secara independent, maka soliditas korps akan bisa terjaga dengan baik. “Sebaliknya jika ada yang tengak-tengok, maka masing-masing personel akan bekerja untuk kepentingan pribadi atau kelompok sehingga tidak ada lagi soliditas di korps Polri,” ujarnya.

PR Kedua adalah mengembalikan kepercayaan publik terhadap Polri, Kepercayaan publik terhadap Polri menurut Aboebakar, menjadi salah satu isu penting yang sepertinya perlu mendapat atensi Kapolri terpilih. Mengingat tahun 2020 banyak peritiswa yang membuat publik ‘melongo’.

“Misalnya, bagaimana mungkin dokumen surat bebas Covid-19 untuk Djoko Tjandra yang seorang buronan (DPO) ternyata diterbitkan oleh Pusdokkes Polri. Ditambah surat jalan yang dikeluarkan oleh Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Polri untuk buronan tersebut,” katanya kecewa.

Tentunya kejadian-kejadian yang demikian membuat publik merasa pesimis dengan semangat reformasi Polri maupun profesionalisme Polri. Sebab, dampaknya pasti akan menurunkan public trust, sehingga hal ini perlu diperbaiki oleh Komjend LSP.

PR Ketiga adalah membuktikan bahwa Polri memiliki hubungan hangat dengan seluruh komponen bangsa. Karena akhir-akhir ini sebagian pihak menilai bahwa Polri kurang dekat dengan umat, bahkan sebagian lagi menilai Polri kerap tajam terhadap umat.

“Jika kita lihat selama ummat Islam cukup dewasa menghadapi perbedaan keyakinan. Terbukti umat Islam tidak menyoal latar belakang agama dari Kapolri terpilih. Tentu ini menunjukkan kualitas kedewasaan sikap dalam pluralisme bangsa ini. Artinya, selama ini kelompok-kelompok Islam sebenarnya tidak pernah meributkan faktor keagamanan seseorang, dan mereka sangat menghormati perbedaan keyakinan dalam kerangka kebhinekaan,” jelas Aboebakar.

PR Keempat, Kapolri terpilih perlu menjamin bahwa tugas Polri dilaksanakan secara professional dengan menggunakan pendekatan yang humanis. Sebagai catatan bahwa tahun kemarin KontraS menyatakan Polri diduga terlibat dalam 921 kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) sepanjang Juli 2019 sampai Juni 2020.

Dari peristiwa itu, 1.627 orang luka-luka dan 304 orang tewas. Kejadian lain yang menjadi perhatian publik adanya extra judicial killing di KM 54 pada bulan Desember 2020.

Situasi ini membuat Aboebakar sebagai anggota Komisi III DPR sebagai mitra Polri selama ini banyak dimintai penjelasan oleh masyakat soal isu-isu tersebut. Misalnya kenapa penanganan demo kok represif? Kenapa pelanggaran prokes sampai dibuntuti ? kenapa pelanggaran prokes sampai membuat 6 nyawa laskar FPI melayang?

“Kami sendiri selama ini mengalami kesulitan untuk memberikan berbagai penjelasan kepada masyarakat. Karenanya ke depan, pendekatan yang professional dan humanis oleh Polri perlu lebih dikedepankan. Sehingga Polri melindungi dan mengayomi akan semakin dirasakan masyarakat,” pungkasnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top