Infrastruktur

Tol Paspro Runtuh, Pejabat Harus Bertanggungjawab

images

JAKARTA-Runtuhnya sejumlah girder pada proyek tol Pasuruan Probolinggo menimbulkan telah korban jiwa. Kalangan DPR mengkritisi pengerjaan proyek PSN tersebut secara sembrono. “Kecelakaan ini karena proyek dikerjakan secara terburu-buru dalam rangka memenuhi target yang ditetapkan pemerintah. Sehingga faktor keselamatan kurang diperhatikan,” kata anggota Komisi V DPR Nizar Zahro dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Menurut anggota Fraksi Partai Gerindra, adanya jatuh korban, maka harus ada pihak yang bertanggung jawab. “Harus ada pejabat yang dihukum secara pidana,” ucapnya lagi.

Oleh karena itu, Nizar berharap pihak kepolisian segera cepat mengusut kasus ini dan segera menetapkan pihak-pihak terkait sebagai tersangka. “Untuk pembelajaran ke depan, agar tidak terjadi kecelakaan lagi, diharapkan pelaksana proyek lebih mengutamakan faktor keselamatan,” paparnya.

Lebih jauh kata Nizar, bagi pejabat terkait, agar lebih realistik dalam menetapkan target infrastruktur. “Nyawa manusia lebih utama dibanding ambisi infrastruktur yang membabi-buta,” imbuhnya.

Sebelumnya, Pemegang Proyek Pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Tol Pasuruan – Probolinggo (Paspro) menyampaikan permintaan maaf atas ambruknya balok flyover Tol Pasuruan-Probolinggo yang terjadi pada Minggu (29/10/2017) pagi.

Peristiwa yang menewaskan satu pekerja bernama Heri itu terjadi di Desa Cukurgondang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Minggu (29/10/2017) pagi. “Pada intinya kami minta maaf atas kejadian ini. Kami akan evaluasi untuk menjadi pembelajaran ke depannya,” ucap Project Manajer Tol Paspro, I Kadek Oka Suartana, Minggu.

Oka mengatakan, kejadian ini tidak pernah diduga oleh manajemen dan semua pekerjanya. Kata dia, seluruh pengerjaan sudah dilakukan sesuai dengan SOP. “Kami memang memasang empat girder untuk pembangunan flyover yang akan menghubungkan Desa Plososari dan Desa Cukurgondang. Pekerjaan itu dilakukan sejak Sabtu kemarin,” katanya.

Dia menjelaskan, pemasangan tiga girder (balok di antara dua penyangga) sebelumnya itu tidak ada permasalahan, semuanya berjalan lancar. Namun, pada pemasangan yang terakhir, ada sedikit kendala.
“Kami belum bisa tentukan juga apa yang menyebabkan kejadian ini. Kami masih runtut satu per satu aktivitas sebelum terjadi kesalahan dan membuat girder terjatuh dan menimpa pekerja,” terangnya.

Dikatakan dia, girder ini memiliki panjang kurang lebih 50,8 meter. Dengan berat diperkirakan kurang lebih 100 ton. Pemasangan ini dilakukan dua crane dengan kapasitas mampu mengangkat girder sampai dengan berat maksimaal 250 ton. “Dari sisi crane saja kami sudah memadai.beratnya 100 ton, kami gunakan crane yang bisa mengangkat girder sampai berat maksimal 250 ton,” papar dia. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top