Nasional

TKI Indonesia Sulit Bersaing Di MEA

Rieke-Dyah-Pitaloka

JAKARTA-Tenaga Kerja Indonesia dinilai belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Karena kualitas sumber daya manusia lokal belum mampu bersaing di tingkat regional. “Sayangnya yang menjadi prioritas di MEA ini adalah tenaga kerja terampil. Dan mayoritas yang ada di Indonesia tenaga kerja kita tidak termasuk dalam tenaga kerja terampil,” kata anggota Komisi IX DPR Rieke Dyah Pitaloka dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (11/1/2016).

Ternyata, kata mantan Ketua Pansus Pelindo, bukan hanya negara ASEAN saja yang bergabung. Namun juga ada 6 negara lain yang bergabung diluar ASEAN yaitu Australia, Selandia Baru, Jepang, Korea Selatan, China dan India. “Karena untuk bersaing dengan negara ASEAN saja kita masih jauh tertinggal bagi dari segi ekonomi dan hal lainnya. Seperti India dan China saja yang memiliki jumlah penduduk di atas kita,” terangnya.

Menurut Rieke, saat pintu ASEAN itu dibuka, maka MEA juga dibuka. Rasanya strategi ketenagakerjaan yang dilakukan oleh pemerintah kita terutama Menteri Tenaga Kerja kita tidak bisa hanya diselesaikan hanya dengan “Loncat Pagar”,” tambahnya.

Karena di MEA ini, lanjut Rieke, pagar-pagar, sekat-sekat atau batas wilayah itu seperti tidak ada lagi. Maka nantinya tidak hanya modal, barang dan jasa yang bebas keluar masuk tetapi tenaga kerjanya juga bisa dengan mekanisme yang mudah dapat berpindah-pindah negara. “Bahkan, para buruh migran kita sebanyak 70 persen yang bekerja diluar negeri mayoritas adalah pekerja rumah tangga. Dan mayoritas dari tenaga kerja kita itu 80% nya adalah perempuan yang masuk dalam wilayah kerja 3 D (Dirty, Danger, Difficult),” jelas dia lagi.

Dikatakan Rieke keberangkatan sejumlah TKI ke luar negeri. Karena keterpaksaan dan faktor kemiskinan. Karena saat ini sudah banyak terjadi kemiskinan secara struktural yang disadari atau tidak justru terjadi secara sistematis.

Seharusnya, sambung dia lagi, Indonesia yang negara Industri bisa mempekerjakan rakyatnya dikawasan-kawasan industri tanpa harus bekerja di negara lain. “Kalau seperti ini terus, Indonesia hanya akan menjadi pusat buruh upah murah bagi negara-negara lain,” imbuhnya. **aec

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top