Market

Sudirta: Keramahan Pariwisata Bali Untuk Semua Umat

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Anggota DPR RI Dapil Bali, I Wayan Sudirta, menyayangkan pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf ) dan Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wisnuthama Kusubandio yang akan menyulap Bali dan Toba lebih ramah terhadap wisatawan Muslim.
Padahal, sejak ratusan tahun masyarakat Bali sangat ramah dan toleran terhadap pendatang, baik Budha, Kristen maupun Muslim.

Karena itu, Sudirta meminta Menpar agar jangan melontarkan pernyataan yang mengkotakkan golongan dan kelompok, tapi mesti melihat fakta obyektif secara sosial maupun historis.
‘’Kalau benar ada pernyataan seperti itu, itu memojokkan orang dan pariwisata Bali yang seakan-akan tidak ramah terhadap wisatawan Muslim. Padahal, selama Raja Salman berlibur di Bali tidak ada complain dan justru memperpanjang liburannya beberapa hari,” ujar Politisi PDI Perjuangan ini.

“Satu pun tidak ada keluhan bahwa Bali tidak ramah bagi Muslim. Karena sejatinya, Bali mengembangkan Kepariwisataan berbagis budaya, keramahannya untuk semua umat manusia, bahkan semua makhluk, sesuai ajaran Tri Hita Karana; memuliakan sesama manusia, alam dan Tuhan,’’ ujar Sudirta.

Sebelumnya, dua destinasi wisata yakni Danau Toba dan Bali ditargetkan menjadi tempat wisata ramah wisatawan Muslim dari mancanegara, meski keduanya memiliki mayoritas beragama non-Muslim.
“Banyak wilayah Indonesia yang bukan Muslim. Misalnya Toba dan Bali. Itu kita siapkan tempat ibadah, wudhu agar mereka nyaman,” ujar Menparekraf Wishnutama di Jakarta, Selasa (11/11/2019).

Menurutnya, kalau Menparekraf mau membuka catatan sejarah, bagaimana raja-raja Bali di Buleleng, Jembrana, Badung, Klungkung, Karangasem, dan lainnya, bersikap sangat baik terhadap Saudara Muslim, dengan diberikannya tanah-tanah untuk membangun perkampungan Muslim. Hal itu mematahkan narasi seakan Bali tidak ramah bagi wisatawan Muslim.
‘’Jangankan wisatawan, semeton Muslim sudah ratusan tahun berinteraksi sosial dengan masyarakat Hindu di Bali tanpa pernah ada diskriminasi, toleransi yang sangat indah,” tuturnya.

Justru wacana-wacana seperti yang dilontarkan Menparekraf bisa memprovokasi suasana yang sudah rukun akan tergosok-gosok, membuat orang tersingggung, dan menimbulkan suasana psikologis yang tidak nyamn.
“Jangan sampai tanpa disadarinya, pernyataan Menpar justru mengadu domba umat Hindu dengan umat Muslim,’’ sambungnya.

Bahkan dalam konteks pengembangan pariwisatanya menampilkan kearifan lokal Bali dengan mengembangkan Kepariwisataan Budaya. Bahkan tahun 2012 diketok palu menjadi Perda No. 2 Tahun 2012.
Isi Perda tersebut merupakan sari-sari kearifan lokal Bali yang telah dibangun ratusan tahun dan tidak pernah ada wacana pariwisata Bali bersifat diskriminatif pada golongan wisatawan tertentu.

Sudirta meminta Menparekraf mendengar dan menyerap lebih banyak lagi tentang nilai-nilai budaya Bali, menyandingkannya dengan prinsip-prinsip bernegara yang berdasarkan Pancasila dan menjaga budaya Nusantara yang bhinneka ini secara baik.

Sudirta mencoba menggambarkan bagaimana Saudara Muslim di Bali telah berinteraksi sosial sangat dekat, dengan menggabungkan nama Bali dengan nama Muslim. Misalnya nama Ketut Syahruwardi Abbas, dimana Ketut diambil dari nama Bali dan Syahruwardi jelas nama Muslim.
‘’Saudara Muslim dan Hindu di Bali sudah ratusan tahun saling menghargai, sama-sama memberikan keramahan, apalagi bagi wisatawan Muslim. Tidak pernah ada diskriminasi, karena Bali menyediakan keramahannya bagi semua wisatawan,” jelasnya.

Soal makanan halal yang menjadi kebutuhan wisatawan Muslim Sudirta menjelaskan, ada restoran yang menyediakan makanan halal. Tetapi banyak wisatawan asing yang suka menikmati kuliner dari daging babi, dan semuanya dipisahkan secara baik, agar tetap nyaman bagi yang tidak suka. “Bahkan resto vegetarian pun berkembang bagus, bisa menjadi pilihan wisatawan yang tidak makan daging sama sekali,’’ jelas Sudirta.

Lagi pula, pengertian pariwisata yang ramah bagi wisatawan Muslim, belum dielaborasi dengan baik, sehingga mudah menimbulkan reaksi apriori.

Sudirta memahami, mengapa banyak yang apriori, karena sebelum gagasan Menparekraf Wisnuthama ini, sudah ada wacana sebelumnya.

Diantaranya mengembangkan pariwisata halal yang sudah ditolak, dan sebelum itu ada wacana pariwisata syariah, yang juga menjadi kontroversi.
‘’Sebaiknya Menteri fokus pada pengembangan kepariwisataan, untuk Bali, yang menyumbang devisa sangat besar kepada Negara, dirasakan belum mendapat kontribusi balik yang seimbang untuk merawat berbagai sumber penghasil devisa tersebut, diantaranya kebudayaan. Menpar tolong mendengar juga beban yang dipikul oleh masyarakat Bali dalam pembangunan, yang menarik wisatawan datang ke Bali,” katanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top