Industri & Perdagangan

Sikapi Tren Fintech, Jokowi: Jangan Buru-buru Meregulasi Inovasi

2018-10-11 20.56.43

NUSADUA-Pemerintah tidak akan terburu-buru menyikapi sebuah inovasi. Oleh karena itu, regulasi yang akan dibuat pemerintah terkait perkembangan financial technology (fintech) dilakukan dengan memberi ruang bagi inovasi dan eksperimen tersebut tumbuh terlebih dahulu.

Presiden Joko Widodo mengaku memiliki pandangannya sendiri terhadap perkembangan Fintech di tanah air.

Saat menjadi pembicara kunci pada Bali Fintech Agenda yang digelar di Mangapura Hall, Hotel The Westin Resort, Badung, Bali, Rabu (11/10/2018), Presiden menyegarkan kembali langkah visioner yang dilakukan mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton ketika menghadapi masalah serupa dalam kurun 90-an lalu.

Saat itu, Presiden Clinton dihadapi pada tren inovasi baru di negara yaitu dengan kehadiran booming internet yang mewabah di AS. Namun, pemerintah Clinton ketika itu belum memiliki perangkat regulasi mengenai tata kelola internet di negaranya.

“Hal yang memungkinkan terjadinya booming internet pertama ini adalah sebuah keputusan visioner dari pemerintahan Bill Clinton untuk menciptakan sebuah tatanan regulasi yang dikenal dengan dua prinsip: light touch dan safe harbor,” ujarnya.

Regulasi itu pada intinya memungkinkan para inovator untuk terus berkembang tanpa khawatir menabrak aturan yang sebelumnya berlaku.

“Hasilnya, inovasi tumbuh pesat dan tidak hanya menghasilkan peningkatan kesejahteraan dan keuntungan ekonomi, tapi juga menempatkan pondasi bagi internet modern saat ini,” kata Presiden.

Meski peristiwa tersebut telah berlangsung hampir 25 tahun lampau, perkembangan teknologi dan inovasi saat ini menghadapkan banyak pemerintahan di berbagai negara kembali menghadapi masalah serupa.

Teknologi telah semakin berkembang dan menjangkau jauh ke dalam fondasi-fondasi ekonomi yang menggerakkan kehidupan saat ini. Metode pembayaran modern seperti Paypal, AliPay, Apple Pay, atau Go-Pay yang tumbuh pesat di negara kita menjadi salah satu bukti perkembangan itu.

“Layaknya booming internet hampir 25 tahun lalu, kita tidak boleh terburu-buru untuk meregulasi inovasi-inovasi baru tersebut melainkan memberi ruang bagi inovasi dan eksperimen tersebut untuk tumbuh terlebih dahulu,” tuturnya.

Presiden mengatakan, inovasi lahir dari eksperimen dan kebanyakan dari eksperimen berakhir dengan kegagalan. Menghukum kegagalan berarti mengerdilkan eksperimen dan tanpanya tidak akan pernah ada inovasi.

“Dengan demikian, akan bertentangan bila kita bicara tentang perlunya inovasi namun menghukum kegagalan secara berlebihan (dengan regulasi yang mengekang),” ucapnya.

Oleh karenanya, Presiden Joko Widodo memandang regulasi pemerintah yang mengekang atau membatasi gerak kreatif para pelaku usaha hanya akan mendorong mereka semakin menjauh bahkan melebihi ruang lingkup yang diatur.

“Hal tersebut hanya akan mendorong kegiatan ekonomi menjauh dari ruang siber di mana kita bukan hanya tidak bisa mengaturnya, kita juga bahkan tidak tahu apa yang terjadi hingga akhirnya kita sadar bahwa kita terlambat,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden mengakui bahwa pihaknya masih memiliki pekerjaan besar soal keterbukaan regulasi terhadap inovasi tersebut dalam birokasi di Indonesia. Dirinya memahami bahwa apa yang dilakukan Bill Clinton di masa lalu adalah sebuah kebijakan yang tetap relevan dan realistis untuk mendukung tumbuh suburnya inovasi di masa kini.

“Saya harap kita semua saling membantu, untuk mendorong keterbukaan terhadap standar global dan platform global,” tandasnya.(nto)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top