Industri & Perdagangan

Senator Jateng Pertanyakan Kenaikkan Cukai Rokok Januari 2020

Casytha Kathmandu

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Kenaikkan tarif cukai rokok sekitar 23% pada 1 Januari 2019 dipastikan memukul kinerja industri rokok, baik yang kecil maupun besar. Dampak jauhnya, bukan sekedar industri rokok, namun petani tembakau juga akan menerima efeknya. “Kita akan pertanyakan kenaikkan cukai rokok ini kepada pemerintah, apa sih sebenarnya dari semangat kenaikkan ini,” kata Anggota DPD RI Jawa Tengah Casytha Arriwi Kathmandu kepada wartawan disela-sela pembukaan Orienstasi Bagi Anggota DPD RI Terpilih 2019-2014 di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Menurut Casytha, kalau memang semangatnya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan menekan peredaran rokok. “Tentu, pemerintah dan DPD RI harus bertemu mencarikan jalan ke luar, solusi terkait nasib para petani tembakau. Inikan menyangkut nasib keluarga petani,” tambahnya.

Diakui Alumnus UGM, dampak dari kenaikkan cukai rokok ini akan menambah beban operasional pabrik rokok. Sehingga kemungkinan besar industri akan memangkas karyawan. “Pastilah itu. Kita akan mengumpulkan para pengusaha pabrik rokok di Jawa Tengah, guna meminta masukkan agar win-win solution,” jelasnya.

Ditanya soal kemungkinan mendorong petani tembakau untuk beralih ke tanaman lain, Casytha belum bisa memberikan jawaban pasti. Karena itu pihaknya akan menemui dulu para petani tembakau di lapangan. “Data lapangan kita ambil dulu, jumlah petani tembakau itu ada berapa jumlahnya, baru kita putuskan bersama-sama dengan pemerintah dan DPD RI,” imbuh wanita jebolan University of Melbourne.

Seperti diketahui, mulai 1 Januari 2020 pemerintah menetapkan kenaikan tarif cukai rata-rata sekitar 23% dan menaikkan harga jual eceran (harga banderol) dengan rata-rata 35%.

Tentu saja, kebijakan ini membuat perusahaan rokok skala kecil PR Kembang Arum di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mengeluh dan merasakan dampak negatifnya. “Produksinya akan turun. Entah itu di awal, pokoknya begitu keputusan itu kenaikan yang sekian persen itu banyak. Ya kan. Pasti berdampak turun,” kata pengusaha PR Kembang Arum, Endang Ekowati di Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Selasa (17/9/2019).

Mengingat perusahaannya merupakan skala kecil. Tentu imbas kenaikan tarif sama saja menambah pengangguran. Saat ini PR Kembang Arum mempekerjakan sekitar 80-100 orang buruh borong lepas. “Kondisi sudah seperti ini, produksinya lagi lesu ini untuk rokok sendiri dan kalau memang menurun berarti berhasil pemerintah menekan produksi,” tambahnya.

Mereka selama ini dibayar sesuai dengan kinerja masing-masing. Maka nantinya pemutusan hubungan kerja mau tak mau akan mereka tempuh. “Jadi perlu dipikirkan juga, otomatis dengan pabrik kecil seperti saya pasti ada pengurangan tenaga kerja,” pungkasnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top