Nasional

Pembudayaan Pancasila, Lemkaji MPR Undang Budayawan

lemkaji sultan

JAKARTA, Lembaga Pengkajian MPR (Lemkaji) akan menggelar Saraserahan Nasional Kebudayaan dengan tema “Kebudayaan Pancasila Sebagai Peradaban Indonesia” akan mengundang budayawan nasional.

Dalam acara yang akan diselenggarakan di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (15/5/2018) ini menghadirkan Sultan Hamengkubuwono X, Frans Magnis Suseno, Zawawi Imron, Acil Bimbo, Nyoman Nuarta, Abdul Hadi, dan budayawan lainnya.

Menurut Ketua Lemkaji, Rully Chairul Azwar, Indonesia memiliki Pancasila yang secara ‘genuine’ nilai-nilainya digali oleh para pendiri bangsa. Dari Pancasila, bangsa memiliki modal awal pembangunan peradaban karena Pancasila adalah ideologi, falsafah dasar negara, dan jati diri bangsa.

“Selain banyak budaya dan kearifan lokal yang jika dihayati dengan baik, bisa memberi kontribusi positif bagi pembangunan peradaban bangsa,” ujar Rully Chairul Azwar.

Politisi Golkar menyayangkan setelah 72 tahun Indonesia berdasarkan Pancasila, nilai-nilai dasar yang ada tidak mewarnai perilaku elit dan sebagaian masyarakat. Budaya Pancasila disebut belum menjadi perilaku untuk membentuk kepribadian.

“Sikap dan perilaku politik serta kebijakan pembangunan malah dibentuk oleh pemikiran pragmatis jangka pendek. Pemecahan masalah yang ada tidak berlandaskan pada nilai-nilai dasar Pancasila,” ungkapnya.

Akibat yang demikian itu, solusi yang dihasilkan menjadi parsial dan tidak membentuk sistrem dan budaya Pancasila. Sehingga pihanya mengingatkan, Pancasila pernah digagas untuk menghasilkan bangsa yang berdikari yang dielaborasi oleh Bung Karno menjadi Tri Sakti.

“Menjadikan Pancasila sebagai basis nilai untuk membangun bangsa yang maju menjadi penting karena kaitan kebudayaan dengan pembangunan peradaban tidak perlu diragukan. Peradaban dunia maju selalu dikaitkan dengan nilai budaya yang dianut masyarakat,” ungkapnya.

Tidak merasuknya nilai Pancasila dalam perilaku elit dan sebagaian masyarakat, menurut Rully Chairul Azwar, karena disebabkan merebaknya kultur munafik di mana perkataaan tidak sinkron dengan perbuatan.

“Banyak aturan tetapi tidak bisa dilaksanakan karena penegakan hukum yang lemah. Juga maraknya perilaku koruptif dan minimnya keteladanan dari kalangan pemimpin,” tambahnya.

Dari sinilah Lemkaji mencari jalan keluar dengan menggagas Gerakan Keteladanan Nasional pembudayaan nilai-nilai Pancasila. “Untuk itu, Lemkaji mendiskusikan dan mencari masalah yang ada dengan menggelar sarasehan nasional kebudayaan,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top