Perbankan

Pembiayaan Divestasi Freeport, Inalum Nyaman Dengan Perbankan Jepang

IMG-20181008-WA0136

JAKARTA-Perbankan asing tampaknya bakal terlibat dalam divestasi 51% saham Freeport. Salah satunya, The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd yang akan memimpin 11 bank pemberi pinjaman atau pembiayaan kepada PT.Inalum. “Saya kira memilih Jepang, tentu ada strateginya. Karena selama inikan memang ekspor konsentrat Freeport, salah satunya ke Jepang,” kata Ketua Fraksi Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir dalam empat pilar MPR RI “Kuasai Mayoritas Saham Freeport, Energi Indonesia Berdaulat?” bersama anggota Komisi XI DPR Johnny G Plate dan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) dan Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin di Jakarta, Senin (8/10/2018).

Lebih jauh kata Inas, kalau Rusia diminta masuk ke pembiayaan, tentu tidak ada kepentingan dalam divestasi tersebut. “Makanya, Jepang diambil untuk itu, lagi pula Inalum punya relasi yang bagus dengan perbankan Jepang,” tambahnya.

Labi pula, kata Wakil Ketua Komisi VI DPR lagi, ekspor konsentrat yang dilakukan Freeport ke China tak lama lagi akan berakhir. Dengan kata lain Jepang menjadi pilihan utama yang menguntungkan.

Seperti diketahui ada enam negara yang mendapat pasokan konsentrat tembaga dari perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) tersebut adalah Korea Selatan dengan total 44 ribu ton, Jepang 104 ribu ton, India 3‎6.400 ton. Selanjutnya ke China mendapat pasokan konsentrat tembaga sebanyak 88 ribu ton, Spanyol 22 ribu ton, dan Bulgaria sebanyak 11 ribu ton.

Sementara itu, anggota Komisi XI DPR Johnny G Plate menegaskan soal pembiayaan itu tak perlu dipersoalkan dari mana dananya. Karena uang tak mengenal agama. “Uang itu mengalir kepada yang memberikan keuntungan (return on invesment). Money is money. Yang penting, bagaimana bisa memberikan benefit bagi NKRI,” ungkapanya.

Menyinggung soal perbankan Jepang, kata anggota Fraksi Partai Nasdem, mungkin saja dari laveragenya baik dan menguntungkan untuk pemerintah Indonesia. “Pembiayaan inikan sifatnya lebih pada bisnis to bisnis. Bukan menggunakan dana APBN,” jelasnya.

Sebelumnya, Kementerian BUMN menyebutkan bank asal Jepang, The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd akan memimpin 11 bank pemberi pinjaman atau pembiayaan kepada Inalum yang membeli divestasi saham PT Freeport Indonesia. “Bank Mitsubishi, itu leader-nya. Nanti dia yang mengatur semuanya,” kata Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno, usai menghadiri diskusi di Wisma Antara Jakarta, Rabu (1/8).

Fajar mengatakan Mitsubishi akan menjadi leader di antara 11 bank yang diketahui akan memberikan pinjaman kepada Inalum untuk menguasai 51 persen saham PT Freeport Indonesia.
Bank Mitsubishi dipilih menjadi bank pemberi pinjaman untuk Inalum karena bunganya yang rendah. “Paling kecil, makanya kenapa Jepang? Karena bunganya paling kecil,” kata Fajar.

Sesuai kesepakatan pokok-pokok perjanjian (head of agreement/HoA) yang ditandatangani pada 12 Juli 2018, Inalum akan membeli saham divestasi Freeport senilai 3,85 miliar dolar AS.
Perinciannya sebanyak 3,5 miliar dolar AS dialokasikan untuk pembayaran hak partisipasi Rio Tinto di Freeport dan sisanya 350 juta dolar AS untuk membeli saham Indocooper di Freeport.

Fajar menambahkan partisipasi perbankan untuk ikut memberikan pinjaman melalui kredit sindikasi ini bisa melalui delapan sampai sebelas bank, tergantung dari kebutuhan Inalum. “Ya sekitar delapan sampai sebelas. Yang sudah siap 11 bank, pokoknya nanti kalau yang kasih dari delapan itu cukup, tergantung dari Inalum,” kata Fajar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top