Investasi

Menkominfo Dukung Pengembangan Wisata Gunung Puntang

IMG-20180324-WA0065

SOREANG-Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengungkapkan pengembangan industri pariwisata daerah memerlukan dukungan infrastruktur telekomunikasi. Karena untuk menjual destinasi wisata dibutuhkan kecepatan informasi. “Makanya kita bangun jaringan broadband berkecepatan tinggi, jadi Kominfo ingin kecepatan akses internet dari Sabang-Merauke sama,” katanya dalam acara ” Hallo Bandoeng
Netherland Amateur Radio Fair 2018 dan Workshop Sejarah Radio Nasional” di Gedong Sabililungan, Kabupaten Bandung, Sabtu 24 Maret 2018.

Hadir pula Bupati Bandung Dadang M Naser, Kadis Pariwisata dan Budaya Agus Firman Zaini, Kabid Destinasi Pariwisata Rully Jaya Permana dan Kadis Pertanian H Tisna Umaran.

Kegiatan ini merupakan agenda tahunan Disbudpar Kabupaten Bandung bekerjasama dengan ORARI Jawa Barat. Selain itu kegiatan tersebut terkait promosi pariwisata Jelajah Teh di Gunung Puntang.

Lebih jauh kata mantan Dirut Exelcomindo (XL), pemerintah menargetkan seluruh kabupaten dan kota madya di seluruh Indonesia sudah terhubung jaringan backbone. Dengan infrastruktur tersebut, maka komunikasi antara bupati hingga kepala desa menjadi lebih mudah. “Kang Dadang tak perlu tiap hari harus menemui kepala desa.
Di sini, transparansi pemerintah akan lebih mudah sampai ke desa-desa. Good governance juga lebih bagus,” tambahnya.

Menyinggung soal wisata sejarah Radio Malabar, Mantan Wakil Dirut PT PLN tak membantah adanya sejarah berdirinya alat komunikasi berteknologi tinggi zaman kolonial. “Memang benar kita tidak boleh melupakan sejarah, seperti yang dikatakan Bung Karno, JASMERAH (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Namun kita juga memiliki tanggungjawab untuk membangun masa depan yang lebih baik,” terangnya.

Yang jelas, kata Rudi, Radio Malabar merupakan alat komunikasi yang cukup strategis bagi Pemerintah Belanda saat itu, karena mampu menghubungkan Nedherlan Indie (Bandoeng) dengan Nedherlan (Den Haag). “Ya inikan memang berkaitan dengan masalah-masalah ekonomi dan bisnis pemerintah kolonial. Bisa untuk melindungi kepentingan ekonomi itu, karena ada banyak perke bunan teh di daerah Malabar ini,” papar alumni Universitas Padjajaran.

Seperti dalam catatan sejarah, Radio Malabar dibangun selama 6 tahun, mulai 1917-1923. Posisinya berada di dataran tinggi Gunung Puntang dan memiliki antena yang panjangnya 2 Km, serta memiliki kemampuan komunikasi 12 Km menghubungkan Bandung-Den Haag. “Sayang sekali umur Radio ini pendek,” ucapnya sambil mengungkap mengapa radio itu didirikan di gunung dan bukan di Batavia atau Bogor.

“Biasanya Belanda membangun infrastruktur untuk melindung aset-aset bisnis dan memang ada pertimbangan lain bagi Belanda,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top