Nasional

Menghentikan Stigma Radikal Di PTN

radikal kampus-3

Menghentikan Stigma Radikal Di PTN
Oleh Muhammad AS Hikam
Pengamat Politik

 

Rektor IPB, Arif Satria (AS), minta agar stigmatisasi radikal terhadap Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dihentikan. Saya mendukung usul beliau tersebut  dansaya juga yakin masyarakat Indonesia pun demikian.

Tapi pada saat yang sama harus pula disadari, diakui, dan senantiasa diingat bahwa stigma itu ada dan bertahan bukan karena murni kebencian atau kampanye hoax terhadap PTN-PTN. Ia berbasis pada fakta bahwa telah dan sedang terjadi penetrasi dan infiltrasi radikalisme telah dan sedang  terjadi di PTN-PTN besar seperti IPB selama lebih dari 2 (dua) dasawarsa terakhir ini. Dan probabilitas akan terus terjadi bukannya tidak ada apabila tidak dihentikan.

Sayangnya, menurut hemat saya, PTN-PTN sampai saat ini masih belum atau tidak mampu meredam dan/ atau menanggulangi penyemaian dan penyebaran ideologi radikalis dan/ atau proses radikalisasi di kalangan civitas akademika mereka, khususnya para pengajar dan mahasiswa.

Menghentikan strigmatisasi radikal thd PTN jelas penting, namun ia hanya akan efektif apabila PTN-PTN sendiri melakukan program dan gerakan yang efektif, sistematis, dan berkesinambungan di lingkungan kampus mereka masing-masing. Deklarasi-deklarasi kesetiaan dan kebangsaan saja tidak cukup. IMHO.

Rektor IPB
Sebelumnya Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria meminta kepada semua pihak stigmatisasi radikal terhadap perguruan tinggi, utamanya perguruan tingg negeri (PTN) dihentikan. Stigmatisasi tersebut sangat kontraproduktif terhadap upaya sivitas akademika menciptakan suasana kondusif, terlebih lagi menjelang persiapan penerimaan mahasiswa baru.

“Mohon kiranya jangan ada lagi stigmatisasi radikal terhadap PTN. Saat ini seluruh PTN sedang menyiapkan penerimaan mahasiswa baru,” ungkap Arif kepada Medcom.id, di Jakarta, Selasa, 4 Juni 2019.

Ketua Terpilih Forum Rektor Indonesa (FRI) periode 2020-2021 ini menegaskan, bahwa dirinya sejak 2017 telah berupaya mengurai eksklusifitas kelompok-kelompok berbasis keagaaman yang disebut pernah ada di kampusnya. Iamenegaskan, saat ini Masjid Alhurriyah IPB merupakan rumah bersama kaum Muslimin di IPB.

Personalia Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) saat ini mencerminkan inklusivitas. “Ada yang berlatar belakang Muhammadiyah, ada juga NU (Nahdlatul Ulama). Masjid tersebut terbuka. Jadi tidak benar kalau masjid Alhurriyah menjadi pusat kaderisasi radikalisme seperti diberitakan.

Institut Pertanian Bogor, kata Arif, juga sepenuhnya akan menjaga kepercayaan orangtua yang telah menitipkan pendidikan anak-anaknya di IPB.”Kami di kampus bertangung jawab atas pendidikan kebangsaan para mahasiswa. Jadi jangan khawatir terhadap jiwa kebangsaan mahasiwa kami. Kami akan jaga kepercayaan itu,” tandas Arif.

Sebelumnya,Setara Institute meneliti “Wacana dan Gerakan Keagamaan di Kalangan Mahasiswa di 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN)”. Penelitian dihelat Februari-April 2019.

Hasilnya, ternyata 10 PTN itu menjadi tempat tumbuhnya kelompok Islam eksklusif transnasional yang berpotensi berkembang ke arah radikalisme. Mereka berkembang di Institut Pertanian Bogor (IPB), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Indonesia (UI), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY),Universitas Brawijaya, dan Universitas Mataram.

Sejumlah perguruan tinggi seperti ITB dan IPB bahkan disebut sebagai kampus yang paparan paham eksklusif berbasis keagamaannya relatif masif. “Paling berat ITB dan IPB,” sebutDirektur Riset Setara Institute, Halili.

Namun Halili mengakui, sejak 2017 lalu, di bawah kepemimpinan Rektor IPB, Arif Satria telah melakukan sejumlah upaya untuk mengurai eksklusivitas tersebut. Salah satunya dengan “membuka” akses Masjid Alhurriyah untuk seluruh paham keislaman.

Di antaranya melalui program Subuh Berjamaah, IPB Berselawat, dan sentralisasi seluruh kegiatan keislaman di masjid.”Inisiatif yang sudah dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi menunjukkan, aktor-aktor kunci di perguruan tinggi memainkan peran penting dalam menguraistructural opportunitydan mendestruksienebling environmentbagi berkembangnya wacana dan gerakan keislaman eksklusif di kampus, khususnya kampus negeri,” kata Halili.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top