Nasional

Mendesak Peningkatan Kompetensi Guru Multimedia dan Broadcast

ZAINUL ULA

JAKARTA, Peran penting guru dalam peningkatan kualitas SMK tidak boleh diabaikan. Guru yang kompeten dan kreatif akan menghasilkan siswa terampil dan produktif, sehingga lulusan SMK sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Besarnya harapan masyarakat terhadap SMK untuk menyerap lapangan kerja secara luas perlu direspon dengan segera. Karena itu, Kemendikbud mendorong peningkatan kualitas maupun kualitas guru SMK, diantaranya melalui program keahlian ganda (alih fungsi) yaitu dengan melatih guru adaptif selama satu tahun untuk menjadi guru produktif.

Melalui program keahlian ganda ini, telah berhasil mengatasi kekurangan 12.741 guru produktif dari 91.816 guru yang dibutuhkan. Pada tahun 2017 sampai dengan 2019 program keahlian ganda ditargetkan menghasilkan hingga 45.000 guru produktif.

Demikian pula untuk meningkatkan kualitas keahlian guru-guru SMK, Direktorat Pembinaan SMK Kemendikbud melakukan kerjasama dengan berbagai industri, misalnya workshop/pelatihan peningkatan kompetensi guru. Kerjasama SMK dengan industri ini diharapkan dapat memperkuat keahlian guru SMK yang sudah dimiliki sebelumnya.

Dalam rangka meningkatkan kualitas kompetensi guru itu, Direktorat Pembinaan SMK kerjasama dengan TV School Indonesia, afiliasi Televisi Lokal Indonesia mengadakan “Workshop Peningkatan Kapasitas Guru SMK dalam Produksi Konten Program Pembelajaran Bidang Multi Media dan Broadcast” yang dilaksankan pada 21-23 Nopember 2017 di Jakarta, kepada guru-guru SMK bidang Multimedia dan Boardcast.

Peserta Workshop terdiri dari utusan dari berbagai SMK negeri dan swasta, antara lain: SMK 1 Denpasar, SMK 3 Kota Serang, SMK 1 Bantul, SMK 2 Yogjakarta, SMK 1 Cimahi, SMK 2 Tasikmalaya, SMK 1 Semarang, SMK 7 Surakarta, SMK 1 Surabaya, SMK 3 Tegal, SMK 1 Sukabumi, SMK 4 Bekasi, SMK 2 Garut, SMK 3 Batu, SMK Bina Informatika, SMKN 2 Kota Jambi, SMK 3 Banjarmasin.

“Seiring dengan dinamika perubahan yang terjadi pada industri, SMK harus up-date terhadap perkembangan kompetensi yang dibutuhkan masyarakat, dan terus menjaga kesesuaian lulusan SMK dengan kebutuhan dunia industri. Jangan sampai guru-guru SMK tertinggal informasi dengan perkembangan teknologi mutakhir,“ kata Sri Puji Lestari dalam sambutan pembukaan Workshop di Jakarta, kemarin.

Menurut Sri Puji Lestari, dengan Workshop ini diharapkan terjadi peningkatan kompetensi keahlian guru, selain penyelarasan kompetensi SMK dengan dunia industri. Berdasarkan Undang-Undang 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 antara lain kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Perkembangan dan pertumbuhan SMK demikian pesat, tanpa diikuti peningkatan kualitas, tidak akan ada artinya, bahkan, kata Puji, akan menjadi bumerang bagi SMK di masa mendatang. “Kami tidak ingin SMK berkontribusi terhadap angka pengangguran yang sudah mencapai 11,41 persen dari 7,04 juta (BPS , Agustus 2017),” kata Sri Puji Lestasi menjelaskan.

Materi yang disampaikan pada Workshop antara lain: Pemanfaatan Media Penyiaran TV Satelit/Streaming/Internet untuk Pendidikan, Format Konten Program Media School TV Indonesia, Strategi dan Teknik Penulisan Naskah TV, Strategi Pembelajaran SMK di era Teknologi Komunikasi, Manajemen dan Teknik Produksi Program Konten Media Televisi Standart School TV Indonesia, Strategi Menjalin Kerjasama SMK dengan Dunia Industri Media, dan Praktek Produksi Paket Program Konten.

Selain itu Puji Sri Lestari, hadir pula pakar dan praktisi pertelevisian dan multi media dari Tim TV School Indonesia; Dr. Hidayat Muctar, M.Si, Drs, Dwi Roesdianto,M.Sc, Agus SP, Dr. Agung Santoso, dan Didi Irianto, SE, AK.

TV School

Melalui kerjasama Workhop Kompetensi, para guru-guru SMK diberikan pembekalan keahlian dan teknis pembuatan program boardcast. Dengan keahlian membuat program broadcast ini diharapkan guru dapat membina siswa di masing masing SMK untuk siap mengisi konten program TV School (TV Jejaring) yang memiliki 68 anggota station TV di berbagai daerah.

Sebagai bagian dari kerjasama, Perusahan pengelola TV School menyerahkan hibah peralatan parabola TV sebanyak 40 unit kepada peserta workshop SMK yang mengikuti Workshop Peningkatan Kapasitas Guru SMK.

Dr. Hidayat Muchtar pengelola TV School mengatakan bahwa hibah siaran yang diberikan oleh TV School kepada SMK-SMK selain berupa perangkat parabola TV, Pihak SMK juga diberikan hibah siaran tayang untuk mengisi konten pada cannel TV School. Durasinya selama 30 menit dalam setiap minggunya.

Menurut Hidayat, program hibah yang diberikan kepada 40 SMK peserta Workshop adalah merupakan bagian dari CSR perusahaan yang ia pimpin, dengan maksud membantu SMK untuk peningkatan kualitas pendidikan. Jika dihitung nilai komersialnya, siaran pada cannel program TV School, relatif besar, sekitar 15 juta untuk tayang per 30 menit siaran. “Kami berharap slot tayang yang diberikan kepada SMK dapat dimanfa’atkan secara optimal, sebagai media pembelajaran bagi siswa-siswa SMK,” kata Hidayat menambahkan.

Tujuan kerjasama ini, kata Muchtar untuk pembelajaran jarak jauh – Distance education, pertukaran bahan ajar, dan mengisi konten program TV School oleh siswa SMK, misalnya prosil sekolah, konten muatan lokal, dan seputar informsi pariwisata di masing-masing daerah. “Dengan program kerjasama ini diharapkan siswa SMK semakin kreatif dalam membuat program siaran televisi, karena ada tantangan untuk maju,” kata Hidayat lebih lanjut.

Sementara itu, Tim Komunikasi Direktorat Pembinaan SMK Zaenul Ula, mengatakan salah satu persoalan besar yang dihadapi SMK, bukan hanya soal output program dengan target-target angka (jumlah lulusan, kompetensi-sertifikasi kompetensi keahlian) tetapi soal outcome SMK, yaitu hasil produk dari SMK yang lebih bermakna kualitatif, apakah lulusan SMK terserap maksimal oleh dunia kerja dan memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan angka pengangguran.

Banyak program dilakukan Kementerian terkait Intruksi Presiden 9/2016 untuk Revitalisasi SMK. Melihat angka-angka perkembangan SMK sekarang ini lebih maju, mulai dari peningkatan jumlah siswa, peningkatan guru, pembaharuan kurikulum, hingga program link and match dengan industri yang semakin luas dan padat. Tetapi, masyarakat lebih sensitif terhadap soal outcomes dari pada output SMK yang telah dicapainya,” ujar Zaenul Ula.

Karena itu, yang tidak kalah penting adalah pengembangan potensi SMK dari aspek pembangunan mental-caracter dan etos kerja yang kuat yang harus dimiliki para siswa, kata Zaenul Ula, sehingga, lulusan SMK tidak hanya bergantung pada satu kompetensi keahlian tertentu, tapi juga modal mentality dan keterampilan komunikasi yang yang baik, maka akan tumbuh jiwa-semangat kreatif untuk mencipta dan produktif.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top