Nasional

Kantor NU dan PDIP Dirusak, Proses Hukum Tetap Dikedepankan

IMG-20181101-WA0118

 

JAKARTA-Kantor DPC PDI Perjuangan, kantor Nahdatul Ulama (NU), sejumlah gereja dan gedung sekolah, di Magelang, Jawa Tengah dirusak.

Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto meminta pihak-pihak yang merasa dirugikan tidak terpancing emosinya, dan menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.

“Serahkan hal tersebut pada aparat penegak hukum untuk bertindak seadil-adilnya,” kata Hasto di Jakarta, Kamis (1/11/2018).

Untuk diketahui, seseorang berinisial NA, yang belakangan diketahui sebagai eks jaringan radikal di Poso, melakukan pelemparan kantor Nahdliyin Center, di Magelang.

Aksi NA berlanjut dengan pelemparan batu ke gereja, satu sekolah pendidikan kristen, dan hingga kantor DPC PDIP Magelang. Aksi pelemparan dilakukan pada hari Jumat (26/10/2018) hingga Sabtu (27/10/2018).

Hasto menambah berdasarkan komunikasi internal partainya, pihaknya mengibaratkan aksi perusakan ini saat mengenang Kantor PDI yang diserang pada tanggal 27 Juli 1996/ Ketika itu, kubu PDIP yang didukung penguasa saat itu berupaya menduduki Kantor DPP PDIP yang dipimpin Ketua Umumnya Megawati Soekarnoputri. Pihaknya pun lebih memilih proses hukum.

Hasto menilai aksi perusakan ini merupakan upaya memecah belah bangsa, termasuk mereka yang mencoba melakukan aksi provokasi keributan pada saat peringatan Hari Santri yang dihadiri Presiden Joko Widodo beberapa hari lalu.

Berbagai bentuk provokasi yang dilakukan pada saat peringatan Hari Santri tidak bisa dibenarkan. “Hari Santri ditempatkan satu nafas dengan peringatan Hari Pahlawan. Itu adalah penghormatan atas jasa para pahlawan pembela kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.

Ia meyakini, upaya menebar ketakutan dengan merusak kantor NU dan PDI Perjuangan di Magelang tidak akan pernah berhasil. “PDI Perjuangan selalu setia pada jalan ideologi Pancasila. Sejarah mencatat Muhammadiyah, NU, PNI, dan TNI bahu-membahu menjaga tegaknya Pancasila dan NKRI,” ujarnya.

Indonesia, menurutnya adalah negara kebangsaan yang dibangun untuk semua. Setiap warga negara harus benar-benar menyatukan diri dengan tanah airnya, sesuai bunyi Sumpah Pemuda 1928.

“Persatuan bangsa ditempatkan dengan menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara, sebagai the way of life dan sebagai pemersatu bangsa. Dengan esensi sila-silanya, maka Pancasila hadir sebagai jiwa dan kepribadian bangsa,” tegasnya.(nto)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top