Nasional

Jokowi: Politisi Menakuti Masyarakat, Politik Gunderuwo

IMG-20181109-WA0080

TEGAL- Presiden Joko Widodo mempertanyakan kesantunan yang dirasa menghilang dari perilaku berpolitik saat ini. Banyak politisi mempengaruhi masyarakat tanpa memegang etika dan politik yang beradab.

Cara-cara berpolitik dilakukan dengan menggunakan segala cara termasuk menakut-nakuti masyarakat. Jokowi menyebut cara-cara berpolitik seperti itu merupakan politik gunderuwo.

“Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan dan kekhawatiran. Setelah takut, yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Masyarakat emang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga, masyarakat akan menjadi ragu-ragu,” ucap Jokowi di Gelanggang Olahraga Tri Sanja, Jumat (9/11/2018).

Kehadiran Jokowi di GOR Tri Senja dalam rangka membagikan sertifikat hak atas tanah untuk masyarakat Kabupaten Tegal.

Jokowi menyayangkan para pelaku politik cenderung tidak memandang etika berpolitik dan keberadaban.

Kepala Negara menggambarkan perilaku berpolitik tak beretika yang menebar ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat berupaya menakut-nakuti untuk mempengaruhi maayarakat.

Berangkat dari mitos Jawa mengenai makhluk halus, dirinya menyebut hal itu sebagai “politik genderuwo”, politik yang menakut-nakuti.

“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Itu namanya politik genderuwo, menakut-nakuti,” tuturnya.

Presiden berharap agar cara-cara berpolitik serupa itu segera ditanggalkan. Sudah selayaknya bagi masyarakat kita untuk memperoleh contoh politik yang baik dan menghadirkan kegembiraan pesta demokrasi di negara kita.

Lebih jauh Presiden Jokowi mengatakan politik dan pesta demokrasi bangsa semestinya disambut dan dihinggapi rasa gembira oleh masyarakat Indonesia.

Dengan kegembiraan itu, masyarakat dapat memberikan suaranya secara jernih dan rasional bagi pemimpin yang dirasa tepat memimpin Indonesia.

Kegembiraan demokrasi ini tentu hanya dapat dicapai dengan cara-cara yang sesuai dengan kesantunan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Politik yang dibiarkan berjalan dengan menihilkan etika sudah sewajarnya kita hindari.

“Kita harus mengarahkan kematangan dan kedewasaan berpolitik dengan cara-cara seperti itu (santun). Oleh sebab itu, sering saya sampaikan: hijrah dari ujaran kebencian kepada ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme kepada optimisme, hijrah dari kegaduhan ke kerukunan dan persatuan,” ujar Presiden.(har)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top