Investasi

Investor Cemas, Sektor Teknologi Terlalu Cepat Berkembang

Rully MPR

JAKARTA-Saat ini investor takut untuk menanamkan investasinya. Karena sektor teknologi begitu cepat perkembangannya. Apalagi life timenya begitu pendek. Makanya, pemerintah terkait pendidikan ini tekanannya bagaimana memajukan Ilmu pengetahuan dan teknologi. “Harusnya sistem pendidikan kita khususnya pendidikan tinggi sudah mengantisipasi cepatna laju pertumbuhan iptek,” kata kata Ketua Lembaga Pengkajian MPR Rully Chairul Azwar didampingi Prof Syamsul Bahri, Muhammad Jafar Hafsah, Wayan Sudirta dan Ahmad Farhan Hamid di Jakarta, Jumat (20/10/2017).

Menurut Rully, kemajuan teknologi ini sangat mempengaruhi daya saing sebuah bangsa. Namun sayangnya, anggaran riset hanya tersedia 0,2% dari PDB. Sementara Malaysia sudah mencapai 1%, sedangkan China kurang lebih 2% dan Korea Selatan 4,1%.

Mantan anggota DPR ini mendesak agar keberadaan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD perlu dievaluasi ke depan. Karena realitanya Kementerian Pendidikan hanya mendapat 4% atau sekitar Rp89 trilun dari APBN. “Padahal APBN 2017, anggaran Pendidikan mencapai Rp416,1 triliun (27,4%). Sementara Rp268,18 triliun atau 64,45% dana itu disalurkan untuk Dana Alokasi Umum (DAU) sebagai dana transfer daerah,” jelasnya

Berdasarkan kajian MPR, kata Rully, Kementerian Agama mendapatkan Rp50 triliun atau 12,12% dari anggaran pendidikan dan Rp12,83 triliun atau 3,08% anggaran itu dibagi ke Kementerian dan Lembaga lainnya. “Makanya, terkait Pasal 31 ayat 3 tentang satu sistem pendidikan nasional dan output pendidikan. Apakah satu sistem pendidikan nasional sudah dilaksanakan?,” katanya seraya mempertanyakan

Lebih jauh Rully menegaskan MPR akan mengundang 25 pakar pendidikan nasional untuk melakukan kajian sekaligus evaluasi sistem pendidikan, khususnya pasal 4 UU Pendidikan terkait alokasi anggaran 20 persen. Para pakar tersebut akan melakukan kajian dalam bentuk ‘Rountable’. “Implementasi mencerdaskan kehidupan bangsa pada pasal 31 UUD NRI 1945 itu selain ada wajib belajar, Iptek, dan Imtak. Apakah sistem pendidikan kita sudah memadai? Hasil kajian ini agar penting siswa dan sarjana Indonesia bisa bersaing di tengah kemajuan teknologi saat ini,“ ujarnya sambil menambahkan rountable akan digelar pada Sabtu (28/10/2017).

Sementara Syamsul Bahri mengatakan Indoensia memiliki ratusan ribu lembaga pendidikan termasuk perguruan tinggi. Tapi, kini sekitar 1 juta sarja menganggur. Padahal, pendidikan dan potensi alam di Papua berbeda dengan daerah lain. “Kalau begitu, ada dengan pendidikan kita,” katanya.

I Wayan Sudirta menegaskan jika kajian pendidikan tersebut harus sesuai amanat UUD 1945. Sebab, iman takwa, ilmu pengetahuan dan teknologi kalau dikerjakan diikuti dengan pembangunan karakter, kerja keras dan kejujuran, “Maka hasilnya akan luar biasa untuk bangsa ini berserikat dan berorganisasi,” pungkasnya. ***eko

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top