Headline

INKA Dapat Kontrak Dari Philipina Senilai Rp127,3 miliar

INKA

JAKARTA-PT Industri Kereta Api (INKA) menandatangani kontrak pembelian Kereta Rel Diesel (KRD) senilai 485 juta peso atau Rp127,3 miliar dengan Philippine National Railways (PNR). Berdasarkan siaran pers di Jakarta, Senin, acara penandatanganan dilaksanakan di Kantor PNR, Tutuban, Manila, Senin, antara General Manager PNR Junn B Magno dan Direktur Utama PT INKA (Persero) Budi Noviantoro.

Turut hadir dan menyaksikan penandatanganan tersebut antara lain Sekretaris Departemen Transportasi Republik Filipina Arthur P Tugade, Atase Perdagangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Manila Irawan, Ketua PNR Roberto Tupas Lastimoso, dan beberapa pejabat dari PNR maupun PT INKA (Persero).

General Manager PNR Junn B Magno menyatakan proyek ini merupakan inisiasi pemerintah Filipina untuk menyediakan sarana transportasi publik yang dapat diandalkan, mempersingkat jarak tempuh, dan lebih nyaman bagi masyarakat. “Rencananya KRD tersebut akan dioperasikan di jalur yang menghubungkan Tutuban Station dan Alabang Station, Metro Manila,” katanya.

Direktur Utama PT INKA (Persero) Budi Noviantoro menyampaikan apresiasi kepada PNR yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan bagi PT INKA (Persero) menjadi bagian dari perkembangan transportasi di Filipina. “Selain itu, tujuan kami adalah menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi PNR,” katanya.

Diakui Budi, PT INKA (Persero) saat ini sedang menggarap berbagai jenis kereta pesanan, baik dalam negeri maupun luar negeri (ekspor). Untuk dalam negeri, sejumlah kereta yang saat ini sedang digarap di antaranya, kereta Bandara Minangkabau, Padang dan Bandara Adi Soemarmo Solo. Selain itu juga peremajaan 438 unit kereta penumpang kelas tiga dan satu pesanan PT KAI (Persero). Dan yang terbaru, PT INKA (Persero) mendapatkan proyek pembuatan kereta api ringan (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek).

Sedangkan di pasar ekspor, INKA menggarap kereta penumpang pesanan Bangladesh Railways untuk yang ketiga kalinya, juga kereta pesanan Zimbabwe. Saat ini juga sedang mempersiapkan untuk kerja sama dengan Sri Lanka dan Filipina.

Lebih jauh Budi menjelaskan soal proses pembangunan pabrik baru PT INKA di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur guna mendukung produksinya di tahun-tahun mendatang. “Untuk parik di Banyuwangi, saat ini proses pembangunan masih dalam tahap pembebasan lahan,” jelasnya

Menurut dia, nantinya fasilitas dan kapasitas produksi pabrik INKA yang ada di Kabupaten Banyuwangi akan lebih besar dari pada pabrik lama yang ada di Kota Madiun. Adapun di pabrik lama di Kota Madiun, INKA menempati area seluas 22 hektare, sedangkan pabrik di Banyuwangi diproyeksikan dibangun di area seluas 80 hektare.

Budi mengatakan rencana pembangunan fisik pabrik di Banyuwangi akan dimulai pada semester kedua di tahun 2018. Dan jika tidak ada halangan, pabrik baru tersebut ditargetkan akan beroperasi pada tahun 2019.

Seperti diketahui, pada akhir tahun 2017 lalu, manajemen PT INKA (Persero) menyatakan hendak membangun pabrik baru di Kabupaten Banyuwangi dengan nilai investasi mencapai Rp600 miliar.

Dipilihnya lokasi di Kabupaten Banyuwangi karena daerah tersebut dekat dengan pelabuhan dan upah pekerja masih rendah. Dengan demikian, biaya produksi yang dikeluarkan PT INKA (Persero) akan lebih murah. Jika telah beroperasi, rencananya pabrik di Banyuwangi akan menjadi fasilitas produksi kereta yang utama. Sedangkan pabrik di Madiun akan dijadikan fasilitas pendukung atau perawatan. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top