Industri & Perdagangan

Industri Pariwisata Bintan Bisa Jadi “Bali Ke Dua”

IMG-20171118-WA0178

TANDJUNG PINANG-Wakil Ketua MPR minta agar pemerintah lebih serius membangun industri pariwisata Keppri ke depan. Karena pulau-pulau Provinsi Keppri memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup. “Pulau Bintan bisa menjadi Bali kedua, apalagi banyak resort di sama yang sebagian besar dimiliki wisman mancanegara, Jepang dan Korea,” katanya dalam Press Gathering wartawan berthema “Pengelolaan Wilayah Perbatasan” di Hotel CK Tandjung Pinang, Jumat (17/11/2017).

Hadir pula anggota MPR Agus Sulistyono dari F-PKB, anggota MPR dari DPD RI Abdurrahman Abubakar dan Sekjen MPR Maruf Cahyono.

Diakui Mahyudin, posisi Bintan maupun Tandjung Pinang sangat strategis karena dekat dengan Singapura. Bahkan
sebenarnya bisa lebih maju ketimbang Singapura hanya saja kalah cepat. “Contoh ketika Bandara Changi Singapura mengalami overload, maka awalnya Keppri khususnya Tandjung Pinang akan dijadikan home base Garuda. Dan akan dibangun Bandara Internasional, tapi faktanya kita kalah cepat, sehingga Singapura sudah keburu membuat terminal tambahan,” ujarnya.

Makanya, sambung Politisi Golkar, pengelolaan perbatasan ini penting sekali. Pasalnya border itu sebagai pintu masuk lintas negara, jadi harusnya dirawat agar masyarakat perbatasan ini tidak terjadi kesenjangan sosial dan semakin cinta pada Indonesia. “Saya setuju dengan Pak Jokowi, bagaimana membangun Indonesia lewat pinggiran. Karena itu bagian dari wajah Indonesia,” tambahnya.

Namun disisi lain, lanjut Mahyudin, ada pula dampak negatif dari daerah perbatasan ini, terutama kejahatan-kejahatan sektor ekonomi. Misalnya saja penyelundupan barang-barang. Karena Keppri ini banyak pelabuhan-pelabuhan dan pulau kosong yang dijadikan jalur tikus. “Jadi perlu penanganan yang sangat hati hati, apalagi diketahui banyak pula armada perompak. Ini yang perlu dicermati,” ucapnya lagi.

Malah Mahyudin membeberkan pengalamannya saat bermain golf. Transaksi di situ lebih banyak menggunakan dolar Singapura. “Saya sempat marah dan tak mau bayar, karena dipaksa menggunkan dolar. Lho inikan negeri saya, bagaimanapun juga harus pakai rupiah. Saya baru paham, karena yang banyak menyewa lapangan golf itu ternyata orang orang Singapura,” paparnya.

Mahyudin tak membantah warga Singapura memang lebih kaya ketimbang warga Keppri. Jadi jangankan di lapangan golf, di pusat-pusat ekonomi misalnya pasar banyak yang menggunakan dolar Singapura. “Pembangunan perbatasan harus menjadi prioritas agar jangan sampai terjadi kesenjangan yang terlalu tinggi,” pungkasnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top