Industri & Perdagangan

Gerakan #2019Ganti Presiden Dituding Sebarkan Informasi Sesat Soal Kenaikan BBM

20180612_190127-1

JAKARTA-Beredarnya informasi hoax mengenai harga BBM makin menyesatkan masyarakat, malah disebutkan harga BBM naik terus. Munculnya hoax ini secara terus menerus karena makin mendekatnya pelaksanaan Pilpres 2019. “Bahkan dikatakan harga BBM tertinggi sepanjang republik ini berdiri,” kata Ketua Komisi VI DPR Inas Nasrullah Zubir dalam siaran persnya di Jakarta, Sabtu (1/9/2018).

Menurut Ketua DPP Partai Hanura, sudah tentu informasi sesat ini sangat intens diteriakkan oleh gerakan #2019ganti presiden. “Padahal realitasnya yang terjadi tidak demikian,” tambahnya.

Lebih jauh Inas membeberkan perbandingan harga BBM era Pemerintahan SBY dengan Pemerintaha Jokowi.

Harga Premium pada awal Pemerintahan SBY, adalah Rp1820/liter,- kemudian terjadi kenaikan 2 kali pada 1 Maret 2005, menjadi Rp.2400/liter. Lalu pada 1 Oktober 2005 terjadi kenaikan yang signifikan, 88%, menjadi Rp. 4500/liter. Kemudian pada 2008 terjadi kenaikan lagi menjadi Rp6000/liter.

Namun pada tahun yang sama turun 2 kali menjadi Rp5000/liter dan pada 2009 turun lagi menjadi Rp4500/liter akan tetapi pada 2013 terjadi kenaikan 34% menjadi Rp6500/liter.

Pada awal Pemerintahan Jokowi, harga minyak dunia melambung secara signifikan serta adanya kebijakan penghapusan subsidi bensin Premium sehinga pada 2014 naik 30% menjadi Rp8500/liter. Tapi kemudian pada 2015 diturunkan menjadi Rp7600/liter lalu turun lagi menjadi Rp6800/liter. Pada tahun yang sama juga naik lagi Rp7300/liter. Kemudian pada 2016 turun lagi menjadi Rp6950/liter dan pada 2017 turun menjadi Rp.6550/liter sampai sekarang.

Pada era SBY, supply chain import melibatkan pemburu rente sehingga rantai supply menjadi lebih panjang, berikut ini alurnya.

Dari Trader/Major Oil Company(MOC) kepada GLobal Energy/Verita oil/Gold Manor lalu ke National Oli Company (NOC) lalu ke Pertamina Energy Services (Petral) kemudian ke Pertamina, dengan Formula harga RON88=MOPS92-US$(0 s/d 0.5) per barrel, dimana disubsidi dari APBN sekitarRp200 triliun.

Trader, MOC dan NOC adalah perusahaan trading internasional yang berpengalaman dalam bisnis minyak, sedangkan MOC selain trading, mereka juga punya ladang dan kilang minyak, yang lain-nya yakni NOC adalah perusahaan minyak milik negara-negara produsen minyak diluar negri.

Yang menarik adalah Global Energy, Verita Oil dan Gold Manor semuanya perusahaan milik Mr. MR yang selama ini diduga sebagai bos mafia migas di Pertamina.

MOPS92 adalah basis harga RON 92 (fluktuatif) yang digunakan untuk menghitung harga RON88 karena RON88 tidak ada basis harganya, karena memang tidak ada kilang di dunia yang memproduksi RON88 kecuali Pertamina.

Pada era Pemerintahan Jokowi, supply chain import dipangkas menjadi 2 rantai/pihak saja, yakni Trader/MOC/NOC langsung ke Pertamina, formula harga menjadi lebih ekonomis yakni, RON88=MOPS92-US$(2 s/d 2.5) per barrel, dimana subsidi APBN ditiadakan.

Harga solar di era SBY akhir 2014 adalah Rp. 5.500,- dengan subsidi dari APBN kurang lebih Rp45 triliun, sedangkan harga solar era Jokowi, harga sekarang Rp5150, berarti turun Rp350,- dengan subsidi Rp15,6 triliun saja. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top