Industri & Perdagangan

Demi Tekan Impor, Pemerintah Genjot Program B30

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Pemerintah tengah mencoba campuran biodiesel 30 persen (B30) guna menekan ketergantungan impor solar.  Dengan adanya program B20 saja, jumlah impor solar sudah mulai berkurang. Apalagi dinaikkan menjadi B30, maka diharapkan bisa turun lagi. “Kalau bisa tahun depan, malah tidak perlu impor solar lagi. Kan produksi solar Pertamina juga sudah bertambah. Jadi tidak perlu impor solar. Sekarang impor yang besar itu di bensin,” kata Kepala Litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM Dadan Kusdiana di sela-sela diskusi Tantangan dan Peluang Implementasi B30 dan B100 di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Senin (22/7/2019).

Menurut  Dadan, impor solar sekarang masih digunakan mining. Tapi jika produksi biodiesel Pertamina, maka impor-impor akan terus dikurangi. “Jadi solar akan duluan cukupnya dibandingkan dengan bensin.  Mungkin suatu saat bisa surplus.  Tidak apa-apa kan itu bisa diekspor.. Tinggal cari pembelinya,” ujarnya.

ESDM juga menargetkan uji coba B30 bisa kelar Oktober. Menurut dia, uji coba B30 ditempuh dengan jarak 50 ribu kilometer (Km). Artinya sehari harus menepuh jarak 560 km.  “Kan temen-teman bisa hitung berapa harinya. Sekitar 80 harian di jalan.  80 hari itu baru kendaraannya bolak balik, belum lagi setiap 2.500 km di cek, begitu juga tiap 5.000 km. Tiap 10.000 km juga di cek olinya,” paparnya.

Menurut dia, saat ini jumlah biodiesel di dalam negeri sangat cukup. Kapasitas produknya mencapai 12 juta kiloliter (KL).  Jika B20 menyerap 6 juta KL, maka B30 bisa menyerap 9 juta KL. Artinya masih cukup. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), selaku produsen biodiesel juga siap menambah produksinya. Pabriknya sudah siap untuk memasok kebutuhan biodiesel yang dibutuhkan jika program B20 lanjut ke B30 kemudian B100. “Dari produksi tidak ada masalah. Nah sekarang kita pastikan dari penggunanya.

Menteri ESDM (Ignasius Jonan) meminta jangan sampai ini meningkatkan biaya perawatan, terus jangan sampai juga ini mengurangi kinerja yang terlalu jauh. Nah dua hal ini kita pantau sebab di B20 kan tidak terjadi,” ujarnya.

Terkait dengan keluhan pengusaha kapal yang tergabung Indonesian National Shipowners’ Association tentang B20 yang bikin kapal mereka rusak?Menurut Dadan, pihaknya sudah mendengarnya dan berdiskusi dengan mereka. “Yang mampet bukan biodieselnya tapi kotorannya. Kalau kotorannya sudah abis selesai.  Tapi kan kita tidak tahu kapan kotorannya habis berapa lama. Paling ideal ya itu jalur bahan bakarnya dibersihkan,” tukasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top