Infrastruktur

Bali Bisa Tiru Sulsel Bangun PLTB

pltb_20171128_190215

JAKARTA-Industri pariwisata Bali yang terus berkembang sudah pasti membutuhkan pasokan listrik yang tinggi. Karena itu dibutuhkan berbagai macam energi alternatif, termasuk energi baru terbarukan (EBT). Salah satu EBT yang sedang dikembangkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Angin atau Bayu (PLTB). “Perlu kajian yang tepat tanpa ada yang intervensi, seperti di Belanda sangat bagus dan perencanaannya cukup matang. Sehingga disamping bermanfaat untuk powerplan, bisa juga untuk obyek pariwisata,” kata anggota DPR RI Ni Putu Tutik Kusuma Wardhani di Jakarta, Minggu (3/12/2017).

Kasus penolakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (Geothermal) Bedugul tentu menjadi pelajaran bagi investor yang mau mengelola EBT di Bali. “Upaya mendorong EBT PLTB bisa menjadi alternatif yang baik dan mungkin bisa diterima masyarakat di Bali, asalkan penentuan lokasi PLTB nya cocok dan tidak menimbulkan penolakan masyarakat,” tambahnya.

Pernyataan disampaikan Tutik menyusul pembangunan perdana PLTB di Desa Mattirotasi dan Desa Lainungan, Watangpulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), di pelosok tengah Provinsi Sulawesi Selatan, atau sekitar 200 kilometer dari Makassar.

Pengumuman pembangunan PLTB perdana di Indonesia itu dikenalkan Presiden Joko Widodo dalam akun Facebook resminya, Sabtu (2/12/2017). Dalam pernyataannya, Kepala Negara mengatakan pemerintah mendorong adanya penggunaan energi baru terbarukan dari air, panas bumi ataupun angin.

Mantan Ketua HIPMI Buleleng ini berharap semua pihak bisa belajar dari kontroversi pembangunan PLTP di Bedugul, Buleleng.
“Mungkin bagus juga, tetapi kan perlu kajian teknis yang detail, sebab sepanjang lokasi juga banyak rumah-rumah penduduk. Memang tata ruang di Buleleng belum jelas, sehingga penduduk masih tidak tertata perumahannya. Apakah ini tidak mengganggu operasional dari PLTB?” katanya.

Dalam pandangan anggota Komisi XI DPR RI ini, dibutuhkan waktu cukup lama untuk benar-benar kajian yang dilakukan tepat sehingga semua rencana bisa diwujudkan tanpa hambatan. “Semua pembangunan harus dibuat dengan program jangka waktu sampai 50 tahun paling pendek, agar tidak seperti pembangunan Sutet yang ada sekarang. Dulu pada 2012 sudah disetujui, tapi sekarang 2017 ada penolakan. Oleh karena itu, pembangunan semacam ini kajiannya perlu waktu hingga 50 tahun ke depan agar rencana yang dibuat tepat,” ujarnya.

Menurut Jokowi, tiang-tiang begitu menonjol, berukuran raksasa, tingginya hingga 80 meter. Pada sebagian tiang menara baja itu, di ujungnya terpasang baling-baling besar, garis tengahnya mencapai 57 meter, sehingga total tingginya mencapai 137 meter. “Ya, inilah tiang-tiang kincir angin raksasa Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) pertama di Indonesia. Di perbukitan itu sedang dibangun 30 kincir angin yang masing-masing menggerakkan turbin berkapasitas 2,5 megawatt, atau 75 MW untuk 30 turbin,” tulis Jokowi.

Kawasan perbukitan Sidrap memiliki potensi angin yang bagus, dengan perkiraan kecepatan angin berkisar tujuh meter per detik yang cocok untuk kebutuhan menggerakkan baling-baling PLTB.***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top