Opini

Airlangga Hartarto, “Antara Geng UGM dan Solo”

20171214_153612-1

*) Pangi Syarwi Chaniago

Partai Golkar berhasil memilih ketua umum dengan melalui paket hemat. Bahkan terpilihnya Airlangga Hartarto berlangsung secara aklamasi dan mulus.

Tentu ada beberapa faktor yang menjadi penyebab, Partai Golkar memutuskan Airlangga Hartato menjadi Ketua umum secara definitif.

Pertama, sosok dan figur Airlangga Hartarto adalah anti tesis dari Setya Novanto. Dia mempunyai rekam jejak yang bagus, tidak memiliki beban moral serta relatif berintegritas, tidak membuat gaduh dan tidak berpolemik dalam tubuh Partai Golkar.

Selain itu, Airlangga Hartarto, terbukti dapat diterima (akseptabel) internal Partai Golkar, baik pada level kader grasroot maupun tingkatan elite pengurus penentu Golkar. Boleh dikata hampir tidak ada riak atau gelombang penolakan dan perlawanan sehingga sosok Airlangga sukses terpilih secara aklamasi.

Kedua, Airlangga Hartarto, posisinya sebagai poros tengah, bisa diterima baik oleh semua faksi dan gerbong Golkar. Yang jelas Airlangga piawai berselancar mendekati kubu JK, ARB dan begitu juga dengan poros Agung Laksono. Ini juga jadi, salah satu determinan atau faktor mulusnya Airlangga terpilih secara aklamasi.

Ketiga, restu Jokowi juga sangat menentukan terpilihnya Airlangga Hartarto. Dengan putusan itu, sekaligus menjelaskan dan mengkonfirmasi bagaimana saktinya Presiden Jokowi mengendalikan Golkar. Dukungan Golkar mengusung Jokowi pada Pilpres 2019 dipastikan aman pasca terpilihnya Airlangga Hartato. Sesuai dengan hipotesis awal saya, siapa yang direstui Jokowi, maka itu lah real Ketum Golkar. Pengurus dan internal Golkar tak begitu kuasa, karena begitu kuasanya dan kuatnya pengaruh Istana sehingga pengaruh Jokowi ngak bisa terbendung di Golkar.

Keempat, Geng UGM alias Bulak Sumur connection juga menjadi variebel ikut menentukan terpilihnya Airlangga Hartarto. Beliau Alumni Universitas Gajah Mada (UGM) sama dengan Presiden Jokowi. Selain itu, Ayah Airlangga Hartato adalah Hartato Sastro Soenarto (Alm) Menteri Perindustrian era Soeharto, adalah orang Solo (sintemen primordialisme), sehingga ada kedekatan dengan keluarga Jokowi. Primordialisme ini bisa memberikan effeck yang sempurna, sehingga memudahkan Airlangga Hartato mendapat restu Presiden Jokowi.

Hanya saja, saya menyarankan Paska memegang kendali Partai Golkar, maka Airlangga harus berhenti jadi menteri. Supaya fokus menyelamatkan Partai Golkar. Karena dalam tradisi politik Jokowi selama ini bahwa Ketua umum Golkar tak boleh merangkap jabatan menjadi menteri.

Saya hakul yakin Presiden Jokowi konsisten dengan sikap dan komitmen tersebut. Jadi memang sebaiknya Airlangga Hartato mundur dengan kesadaran sendiri tanpa diminta oleh presiden. Meski secara hukum tidak ada problem-Menteri rangkao jabatan sebetulnya, namun secara etika ada problem serius dan juga terkait dengan komitmen dan konsistensi janji Jokowi yang tidak memperbolehkan menteri rangkap jabatan.

Oleh karena itu, terpilihnya Airlangga Hartato secara aklamasi patut kita apresiasi. Ini jelas kemampuan Golkar yang begitu cepat keluar dari labirin problem internalnya dan berhasil kembali membangun solidaritas dan konsolidasi Golkar di tahun 2017 sebelum memasuki tahun istimewa 2018.

Yang jelas, pemilihan secara aklamasi terkait kebijakan penentuan ketua umum bisa diselesaikan di level elite. Langkah aklamasi adalah paket hemat, efektif dari segi pembiayaan, biasanya setiap Munas dan Munaslub pembiayaan membengkak (high cost), karena memobilisasi suara DPD dibarter dengan uang. Munaslub besok hanya sekedar formalitas semata dan agenda pengesahan kepengurusan.

Golkar berhasil membangun habitus musyawarah mufakat (konsensus) dalam memilih nahkoda Golkar, dengan sadar dan cepat keluar dari badai konflik yang menyandera ketua umum golkar selama ini.

*)Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top